Hujan.kenangan

Hujan
Saatnya mengenangmu lewat aroma secangkir kopi
Saatnya merindumu melalui lirik lagu

Hujan
Datang bersama ribuan adegan masa silam
Datang bersama senyuman di tiap indah kenangan
Datang bersama hujaman pisau di tiap sedu sedan pahitnya perjalanan

Hujan
Terlalu banyak membawamu datang ke dalam ingatan

*myBed, midnite 00.21Wib

nouphicated

Advertisements

Love.sister

image

Aku terharu sekali membaca postingan ini
I love you too my one and only sister
My guardian angel, yang selalu ada kapanpun tanpa pernah menjudge apapun yang aku lakukan
Pelipur lara, yang selalu bikin ketawa dengan tingkah polah khas abege
Penyemangat ketika aku rapuh
Adik yang seringkali memiliki pemikiran yang jauh lebih dewasa

Tuhan baik banget karena mengirimkan kamu
Menjadikan aku kakak, membatalkan niatNya menjadikan aku anak tunggal
Punya adik begitu mewarnai hidup

I love you so much

nouphicated

aku.Terlalu.kamu

image

Mungkin
Inilah perbedaan antara aku dan kamu
Aku terlalu peduli, bahkan dengan hal yang amat kecil
Dan kamu bahkan tak melihat hal yang amat besar
Sehingga aku terluka sendiri oleh sikapmu yang teramat biasa

Perjalanan yang kita lalui
Cerita yang kita perbincangkan sepanjang malam
Adegan-adegan berlarian dalam ingatan
Menusukku berkali-kali
Tapi nampaknya tidak berlaku untukmu Tuan

Benar, mungkin terlalu banyak kamu dalam diriku
Dalam secangkir kopi
Dalam lipatan-lipatan ingatan
Dalam tulisan-tulisan
Dalam genggaman tangan
Dalam mata yang terpejam
Dalam hening doa di gelap malam

Haruskah aku mengurangi dosis agar kecanduanku akan dirimu berkurang lantas hilang?

nouphicated

Sapu

image

Membaca sepenggal tulisan dari penulis yang selalu kupantau kicauannya di dunia maya
Ada desir dingin menyiram hati
Benar adanya, aku harus menjadi sapu untuk diriku sendiri yang sampah
Mengiba-iba maaf dalam sujud hikmat lembut sajadah
Mengharap belas kasih sang Maha Cinta
Tanpa pernah berusaha untuk menjadi sapu
Membersihkan diri dengan memaafkan diri sendiri
Mencoba berdamai dengan masa lalu
Bukan menghakimi, bukan meratapi apalagi menyesali

Ya, Benar, pada saat ini, aku harus menjadi sapu untuk diriku yang sampah
Langkah awalnya adalah, menjadi pemaaf untuk diriku sendiri

Selebihnya, bukankah Tuhan memang Maha Pemaaf?
Hanya manusia yang punya sifat dendam

nouphicated

09.01.16 (2)

image

Alkisah ada seorang Gadis berJilbab merah bergaun hitam terjungkal di parkiran motor dan tertindih motornya sendiri hingga menyebabkan kaki kanannya mengharu biru..
Sebut aja gadis itu ‘saya’ *tertunduk malu*

Entah apa yang sebenarnya terjadi, tau-tau udah terjungkal tak berdaya, akhirnya lantai parkiran yang licin menjadi kambing hitam sasaran kesalahan
Hebatnya, kaki udah bengkak membiru masih bisa jalan muterin mall cari buku
The power of Belanja 😂

Keanehan lain terjadi, sesaat sebelum pulang, di depan lift mata mendadak gelap, kesadaran makin berkurang, keringat dingin..
Alhamdulillah ada kamu sang penyelamat, menuntun ke kursi, membelikan teh panas
Tuhan tak membiarkan saya jatuh untuk yang kedua kalinya hari ini..terimakasih Tuhan, Engkau memang selalu menjadi yang terbaik

Benar kata orang tua, kalau malas lebih baik tak usah dilaksanakan
Hari ini rencana mau membeli cincin, tapi entah kenapa malas melanda
Dan voala…ternyata tragedi terjungkal ini alasannya
Sekarang hanya bisa terbaring, menikmati rasa nyut-nyut yang melanda

Selalu ada hikmah dalam setiap kejadian
Di balik haru biru jari kaki dan paha
Ada silaturahim yang terbina
Dari mantan pacar misalnya
Alhamdulillah, pertemanan terus terjalin, dan kali ini mendapat kabar baik karena si mantan pacar akan menikah..saya turut bahagia
Yang membuat saya ga bahagia adalah tempat pesta dilaksanakan nantinya, di negeri pempek sana
Miris liat Isi dompet dan list jalan-jalan tahun ini

Okelah, nabung, untuk trip selanjutnya, berburu pempek
Mungkin, kamu mau menemani?

Tempat tidur, 09.01.16 23.53

nouphicated

09.01.16

Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00
Teringat janji untuk menemanimu mencari sebuah cincin tepat pukul 11.00 nanti
Entahlah, ada rasa malas yang membuatku hingga detik ini tetap terbaring memainkan ponsel, tak ada niatan untuk segera bangkit mematut diri di depan cermin

Haruskah kulanggar saja janji itu?
Atau kubunuh rasa malas ini
Bukankah janji adalah sebuah hutang?

nouphicated